KRONIK PERADABAN
BEJI SIRAH KETENG
Dari penerbitan Prasasti Sirah Keting (1204 M) oleh Prabu Sri Jayawarsa Digjaya Sastra Prabu (trah Dinasti Isyana Medang), jejak petirtaan suci berhulu mata air alami di Bhumi Wengker, dinamika Babad Ponorogo era Adipati Suryangalam vs Batara Katong, era keemasan wisata rakyat abad ke-20, temuan bata merah raksasa 2016, hingga preservasi digital fotogrametri 3D September 2026 oleh peneliti MAN 2 Ponorogo.
Penerbitan Prasasti Sirah Keting & Hak Sima Swatantra
Tahun 1126 Saka (1204 Masehi), Raja Prabu Sri Jayawarsa Digjaya Sastra Prabu menerbitkan piagam batu Prasasti Sirah Keting. Piagam ini menetapkan anugerah status Sima Swatantra (daerah perdikan otonom bebas pungutan pajak kerajaan) serta hak-hak istimewa kepada tokoh lokal bernama Marjaya (bergelar atapatigh) atas kesetiaan dan pengabdiannya.
Prabu Sri Jayawarsa adalah cucu kandung Raja Dharmawangsa Teguh (Medang Mataram Kuno di Jawa Timur), trah Dinasti Isyana (Mpu Sindok), serta berkerabat dengan Prabu Airlangga. Beliau memerintah wilayah Madiun, Ponorogo, dan sekitarnya secara berdampingan damai dengan Kerajaan Kediri era Raja Kameswara. Nama asli situs ini sebagaimana terpahat dalam prasasti adalah "Sirah Keting".
Pertarungan Suryangalam & Asal-Usul Nama Sirah Keteng
Transkrip Babad Ponorogo mencatat pertempuran sengit antara tokoh legendaris Suryangalam (Ki Ageng Gribig) melawan Raden Batara Katong yang didampingi Patih Seloaji dan Ki Ageng Mirah. Terdesak di perbukitan Bancingan (yang melahirkan toponimi Belik Bacin karena air belik berbau anyir darah), pertarungan berlanjut ke arah selatan hingga ke bawah naungan pohon beringin raksasa petirtaan Beji.
Di lokasi inilah leher Suryangalam tertebas senjata pusaka hingga kepalanya terpenggal dan jatuh ke dalam air sendang Beji. Kepala yang terendam menimbulkan aroma busuk menyengat (ledeng-ledeng), melahirkan toponimi lisan "Sirah Keteng" (kepala yang terpenggal). Sementara itu, tubuh tanpa kepala (gembung) dikisahkan tetap berdiri dan terus berlari menuju Gunung Dlokor (Tladan, Mlarak) menghadap danyang leluhur Nyi Kurek.
Tanggul Batu 1971 & Masa Keemasan Destinasi Beji
Pada tahun 1971, pemerintah desa bersama masyarakat Bedingin melakukan penataan fisik pertama dengan memasang plesteran tanggul batu keliling (plesengan) di dinding kolam sendang Beji secara bertahap untuk menjaga debit air alami dan mencegah abrasi tanah pematang.
Periode 1970 hingga 1980-an menjadi era keemasan Beji Sirah Keteng sebagai pusat destinasi wisata rakyat, rekreasi keluarga, pemandian alam terbuka, dan kolam renang favorit warga. Lapangan situs Beji juga tercatat pernah menjadi lokasi kegiatan budayawan nasional Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) dan seniman komedian Tukul Arwana. Pasca 1980-an, keterbatasan dana perawatan desa membuat sarana fisik mulai aus dan pengunjung berangsur menurun.
Memuat 3D Bangunan Wisata...
Pengerukan 2016 & Temuan Bata Merah Raksasa Kuno
Pada kurun waktu sekitar tahun 2011, proyek renovasi plesengan dinding kolam Beji dilaksanakan untuk kali terakhir sebelum dinding penahan kembali rapuh dimakan usia dan tekanan rembesan air mata air alami.
Penemuan arkeologis penting terjadi pada tahun 2016 saat pengerukan intensif endapan lumpur dasar kolam pemancingan Beji dilakukan. Penggalian tersebut menyingkap sebaran lapisan pondasi dan bongkahan batu bata merah kuno berdimensi sangat besar tepat di depan arca Kalamakara. Temuan fisik ini membuktikan adanya struktur bangunan candi atau petirtaan masa klasik Jawa yang terpendam di bawah air.
Digitalisasi Fotogrametri 3D Riset MAN 2 Ponorogo
Menyikapi ancaman degradasi fisik batuan andesit, rusaknya plesengan kolam, dan belum adanya dokumentasi tertulis resmi di tingkat desa, tim peneliti muda MAN 2 Ponorogo (Annisa Tri Yulianti, Auliya Fathiyyatul Maghfiroh, dan Ilham Rofi Anugrah) didampingi Reno Prasnianggara Al Risky serta dibimbing oleh guru sejarah Wiretno, S.Hum, Gr melaksanakan penelitian komprehensif pada September 2026.
Riset ini merekam wawancara sejarah lisan narasumber kunci Pak Jarno (purna tugas pamong / kamituwa Desa Bedingin 2024), mengklarifikasi mitos fiktif yang beredar, memetakan hidrologi terowongan air alami sejauh ±7 km menuju Kedung Lesung Rengnanom, serta membangun model 3D fotogrametri digital twin berpresisi tinggi arca Kalamakara yang dapat diakses publik luas.
Karakteristik Tipologi Sepanjang Zaman
Rentang transformasi peradaban Beji Sirah Keteng dari piagam batu 1204 M, toponimi babad, era plesengan dan wisata rakyat, temuan bata merah kuno, hingga korpus fotogrametri digital 2026.
Prasasti Sirah Keting
Prabu Sri Jayawarsa (trah Isyana Medang) menetapkan Sima Swatantra otonom bebas pajak kepada Marjaya.
Babad Ponorogo
Duel Suryangalam vs Batara Katong, toponimi Sirah Keteng dari kepala terputus di Beji & tubuh ke Gn. Dlokor.
Plesengan & Wisata
Pemasangan tanggul semen 1971, puncak era destinasi pemandian umum, kunjungan Cak Nun & Tukul Arwana.
Temuan Bata Klasik
Renovasi 2011 & pengerukan kolam 2016 menyingkap sebaran bata merah raksasa pondasi candi di dasar sendang.
Preservasi 3D MAN 2
Riset digitalisasi terpadu MAN 2 Ponorogo, fotogrametri 3D interaktif, verifikasi hidrologi 7 km, arsip desa.
Lanjutkan Menjelajahi Cerita Rakyat (3 Versi)
Telusuri folklor lisan Kamituwa Jarno, versi Babad Ponorogo, dan narasi tutur masyarakat.