Hikayat & Kosmologi Sirah Keteng: Tiga Sudut Pandang Penuturan
Berdasarkan wawancara sejarah lisan dengan narasumber kunci Pak Jarno (purna tugas pamong / kamituwa Desa Bedingin 2024) serta riset lapangan MAN 2 Ponorogo (September 2026), narasi seputar Beji Sirah Keteng diklasifikasikan secara objektif ke dalam tiga ranah: peristiwa Babad Ponorogo, mitos pewayangan fiktif (disertai catatan kritis ilmiah), serta fakta arkeologis dan hidrologis riil.
Episode 1: Pertempuran Bukit Bancingan & Toponimi Belik Bacin
Kisah Babad Ponorogo mencatat duel sengit antara tokoh perkasa Ki Ageng Suryangalam (Ki Ageng Gribig) menghadapi perlawanan Raden Batara Katong yang didampingi Patih Seloaji dan Ki Ageng Mirah. Terkena pusaka sakti Batara Katong di perbukitan Desa Bancingan, Suryangalam jatuh terperosok ke dalam sumber air (belik) hingga airnya berbau anyir darah, melandasi toponimi daerah "Belik Bacin".
Episode 2: Duel di Bawah Pohon Beringin Raksasa Beji
Kendati terluka, kesaktian kanuragan Suryangalam membuatnya belum binasa. Ia menantang Batara Katong untuk mengejarnya (nututi) ke arah selatan. Keduanya bertemu dan kembali bertarung hidup-mati di bawah naungan pohon beringin raksasa di tepian mata air petirtaan Beji.
Episode 3: Terpenggalnya Leher, Bau Ledeng, & Toponimi Sirah Keteng
Dalam benturan ilmu pamungkas, leher Suryangalam tertebas senjata pusaka hingga kepalanya terputus dan terlempar masuk ke dalam sendang Beji. Kepala yang terendam di dasar air menimbulkan aroma busuk menyengat (ledeng-ledeng), melahirkan penamaan toponimi lisan "Sirah Keteng" (dari kata Jawa sirah berarti kepala, dan keteng berarti terpenggal atau tertebas).
Episode 4: Gembung Berlari Menghadap Nyi Kurek di Gunung Dlokor
Keajaiban mistik terjadi saat tubuh tanpa kepala (gembung) Suryangalam tetap tegap berdiri dan terus berlari kencang menerobos hutan menuju puncak Gunung Dlokor (kini wilayah Desa Tladan, Kecamatan Mlarak). Di bukit keramat tersebut, gembung dan kepala Suryangalam menyatu kembali saat menghadap sosok danyang leluhur Ponorogo, Nyi Kurek.
"Sirah pedhot kecemplung ing toya Beji, ledeng mambet gandaning krodha, gembung lumayu tumuju Dlokor wukir, sowan marang Nyi Kurek danyang luhur..."
Terjemahan: "Kepala terpenggal jatuh ke dalam air Beji, aroma tajam menyengat menyelimuti sendang, tubuh tanpa kepala berlari menuju Gunung Dlokor, bersatu kembali menghadap Nyi Kurek sang danyang leluhur."
Perjalanan Suryangalam membentuk segitiga toponimi kultural Ponorogo selatan: Belik Bacin (titik awal bentrok di utara), Beji Sirah Keteng (titik penggalan leher di sendang), dan petilasan Gunung Dlokor (titik rekonsiliasi kosmis gembung dengan Nyi Kurek).
Memuat 3D Kalmakara.glb...
Babad Ponorogo: Suryangalam
Duel sengit melawan Batara Katong di bawah beringin Beji, toponimi leher tertebas (Sirah Keteng) & tubuh berlari ke Gn. Dlokor.
Catatan Peneliti: Berdasarkan kesaksian narasumber Pak Jarno (Kamituwa), arca Kalamakara telah berpindah letak 3 kali di area Beji. Saluran air bawah tanah alami terhubung secara hidrologis sejauh ±7 km menuju Kedung Lesung di Pegunungan Kidul Rengnanom.
Lanjutkan Menjelajahi Monolit Utama 3D
Kaji struktur litologi, transliterasi prasasti Kawi, dan analisis petrografi.