Ekskavasi Digital Litik Sambit
“Bhatara Kala anyirnakna durjana, tirtha pawitra anyuceni sarira.”
Pahatan transkripsi kiasan: Wajah waktu menelan keburukan duniawi di hulu mata air, meruwat setiap jiwa yang menyentuh tirta suci lereng bumi Ponorogo.
Monolit Suci & Petirtaan Sirah Keteng
Tersembunyi di petirtaan Dukuh Krajan, Desa Bedingin, Kecamatan Sambit, Ponorogo, Beji Sirah Keteng merepresentasikan monolit andesit monumental berbentuk kepala raksasa (Kalamakara). Menjadi saksi persimpangan tradisi megalitikum animistik lokal dengan petirtaan suci berhulu mata air alami era Prabu Sri Jayawarsa (1204 M) hingga peradaban klasik Jawa.
Relief wajah menyeringai bermahkota lung-lungan bukan sekadar ornamen penangkal marabahaya; ia difungsikan sebagai penjaga mata air abadi (jaladwara sakral) tempat ruwatan dan pembersihan spiritual masyarakat agraris kuno.
Jika browser memblokir pembacaan file lokal (CORS), klik tombol di bawah untuk memilih file GLB secara langsung:
Netra Terbelalak
Mata melotot bundar khas arca Kala era Singhasari-Majapahit penolak malapetaka (bhoma).
Mulut Pancuran Air
Rongga bibir bawah yang terhubung langsung dengan saluran debit tirta petirtaan kuno.
Ukiran Mahkota Kembang
Pola sulur floral daun pakis dan api abadi melambangkan kesucian siklus kosmis.
Konservasi Berbasis Fotogrametri & Nilai Hidrologis
Penyelamatan situs Beji Sirah Keteng menuntut perlindungan terpadu: memelihara kelestarian fisik batu andesit arca Kalamakara, menjaga ekosistem mata air alami Dukuh Krajan yang terhubung sejauh ±7 km ke Kedung Lesung Rengnanom, serta menyajikan data digital twin 3D terbuka bagi edukasi publik.